Faktor Beban Kerja Menurut Cohen

Posted on

Beban kerja yang dirasakan oleh seorang pekerja dapat menjadi faktor  penekan yang menghasilkan kondisi-kondisi tertentu, sehingga menuntut manusia memberikan energi atau perhatian yang lebih. Faktor penekan ini adalahbaban yang dirasakan pekerja atas pekerjaannya atau beban yang ditimbulkan dari pekerjaannya yang dirasakan oleh pekerja.

Salah satunya menurut ahli, Cohen (1980) melakukan penelitian terhadap sejumlah orang yang dihadapkan pada kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan dalam pekerjaannya. Kondisi-kondisi itu berupa suara bising, kejutan listrik, hambatan-hambatan dalam pekerjaan, birokrasi dan tugas-tugas yang diberikan. Diperoleh hasil bahwa orang-orang dalam penelitian tersebut menjadi kurang efektif dalam menjalankan tugas-tugas yang membutuhkan ketelitian dan konsentrasi, toleransi terhadap frustasi dan kemampuan untuk mengamati gangguan persepsi. Mereka menunjukkan penurunan kepekaan terhadap orang lain dan bertambahnya perilaku agresif.

Faktor penekan diatas dikelompokkan dalam faktor-faktor situasioanl dan faktor diri pekerja. Faktor situasional terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan psikis.

  • Faktor Lingkungan Fisik

Faktor  lingkungan  fisik  adalah  lingkungan  pekerjaan  itu  sendiri (Cohen:1980). Kondisi-kondisi fisik di lingkungan kerja meliputi :

  1. Rancangan ruang kerja (Work space design)

Meliputi kesesuaian pengaturan susunan kursi, meja dan fasilitas kantor lainnya. Hal ini berpengaruh cukup besar terhadap kenyamanan dan tampilan kerja pegawai.

  1. Rancangan pekerjaan (Termasuk peralatan dan prosedur kerja)

Meliputi peralatan kerja dan prosedur atau metode kerja. Peralatan kerja yang tidak sesuai dengan pekerjaannya, akan mempengaruhi kesehatan dan hasil kerja.

  1. Kondisi fisik lingkungan kerja (Kebisingan, ventilasi, penerangan)

Penerangan, ventilasi dan kebisingan sangat berhubungan dengan kenyamanan dalam bekerja.

  1. Tingkat visual privacy serta acoustical privacy

Pekerjaan-pekerjaan tertentu membutuhkan tempat kerja yang dapat memberikan privacy bagi pegawainya. Privacy diartikan sebagai keleluasaan pribadi terhadap hal-hal yang menyangkut dirinya dari kelompoknya. Visual privacy berhubungan dengan faktor penglihatan,sedangkan acoustical privacy berhubungan dengan pendengaran. Biasanya acoustical privacy lebih besar pengaruhnya dari pada visual privacy.

  • Faktor Lingkungan Psikis

Lingkungan psikis di lingkuangan kerja dapat berdampak positif atau negative. Hal ini sangat bergantung bagaimana individu menanggapinya. Faktor lingkungan psikis merupakan hal-hal yang menyangkut hubungan sosial dan keorganisasian. Keith Davis (1984), mengemukakan beberapa kondisi psikis yang mempengaruhi kepuasan kerja seseorang yang meliputi :

  1. Pekerjaan yang berlebihan (Work Overload)

Pada umumnya pekerjaan yang berlebihan merupakan hal-hal yang menekan dapat menimbulkan ketegangan (tension). Pekerjaan yang berlebihan belum tentu menimbulkan stress, sehingga pegawai belum tentu pula merasa kurang aman dalam menghadapi pekerjaannya.

  1. Desakan waktu (Time urgency)

Waktu yang terbatas atau mendesak dalam penyelesaian suatu pekerjaan merupakan hal-hal yang menekan yang dapat menimbulkan ketegangan (tension). Waktu yang terbatas juga tidak cukup untuk menimbulkan stress, apalagi tugas yang diselesaikan hanya sedikit.

  1. Sistem Pengawasan yang buruk (Poor quality of supervisor)

Sistem pengawasan yang buruk, dapat menimbulkan ketidakpuasan. Seperti ketidakstabilan suasana politik, kurangnya umpan balik prestasi kerja dan kuarng pemberian wewenang sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.

  1. Kurang Tepatnya pemberian kewenangan sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan (Inadequate authority to match responsibilities)

Akibat dari pengawasan yang buruk akan menimbulkan efek pada pemberian wewenang yang tidak sesuai dengan tanggung jawab yang dituntut pekerja. Pekerja yang tanggung jawabnya besar dari wewenang yang diberikan akan mudah mengalami perasaan tidak sesuai yang akhirnya menimbulkan ketidakpuasan.

  1. Kurangnya umpan balik prestasi kerja (insufficient performance feedback)

Sistem pengawasan yang buruk atau kurangnya umpan balik prestasi kerja dapat menimbulkan ketidakpuasan kerja. Umpan balik prestasi kerja misalnya adalah promosi.

  1. Ketidakjelasan peran (role ambiguity)

Ketidakjelasan peran dapat berarti pula ketidaksesuaian antara status kerja dengan aspek-aspek lain dalam kehidupan.

  1. Perbedaan nilai-nilai perusahaan dengan nilai-nilai yang dimiliki pekerja (differences between company’s and employee’s)

Kebijakan perusahaan kadang-kadang sering bertolak belakang dengan diri pekerja. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar, karena pada dasarnya perusahaan lebih berorientasi pada keuntungan (provit). Sedangkan pekerja menuntut upah tinggi, kesejahteraan serta adanya jaminan kerja yang memuaskan.

  1. Frustasi (frustration)

Frustasi sebagai kelanjutan daari konflik, pada terhambatnya usaha mencapai tujuan. Misalnya harapan perusahaan tidak sesuai dengan harapan pekerja. Hal ini akan menimbulkan ketidakpuasan yang apabila berlangsung terus menerus akan menimbulkan frustasi.

  1. Perubahan-perubahan dalam segala bentuk (change of anytipe)

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam pekerjaan akan mempengaruhi cara-cara orang bekerja. Hal ini berarti terjadinya ketidakstabilan pada situasi kerja. Perubahan menuntut penyesuaian agar terjadi kestabilan pada situasi kerja dapat berupa perubahan jenis pekerjaan, perubahan organisasi, pergantian pimpinan maupun perubahan politik perusahaan.

  1. Perselisihan antar pribadi dan antar kelompok (interpersonal and intergroup conflict)

Perselisihan juga terjadi akibat adanya perbedaan tujuan antara nilai-nilai yang dianut dua pihak. Dampak negatif perselisihan adalah terjadinya gangguan dalam komunikasi, kekompakan dan kerja sama. Sedangkan manfaatnya adalah adanya usaha positif untuk mengatasi perselisihan, daya juang yang tinggi untuk mencapai tujuan dan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan maupun tuntutan dari lingkungan. Situasi yang sering menimbulkan perselisihan di tempat kerja antara lain : persaingan, ketergantungan pada tugas, ketidakjelasan dalam pembagian wewenang, masalah status dan perbedaan individu.

  1. Suasana politik yang tidak aman (insecure political climate)

Ketidakstabilan suasana politik dapat terjadi di lingkungan kerja maupun di lingkungan lebih luas lagi. Misalnya karena situasi politik, terjadi devaluasi di suatu Negara, sehingga menimbulkan ketidakstabilan perusahaan-perusahaan yang ada di Negara tersebut dan sekaligus mempengaruhi orang-orang yang bekerja disana.

Pada umumnya pekerjaan yang berlebihan itu merupakan yang menekan yang dapat menimbulkan ketegangan, hal ini sering menjadi beban atau tekanan bagi sebagian orang, tetapi bisa juga bukan merupakan tekanan bagi sebagian orang lainnya. Hal ini tergantung pada bagaimana individu menyikapi beban kerja yang dihadapinya. Bagaimana cara seseorang menghayati dan menilai suatu objek, dalam hal ini pengertian mengenai beban kerja yang sesungguhnya, tidak lepas dari pengalaman dan harapan-harapan orang itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *