Faktor, Sifat Teori Kepribadian The Big Five Personality

Posted on

Untuk mengungkap The Big Five Personality dalam trait kepribadian, terdapat tiga cakupan utama yaitu: faktor analisis sejumlah istilah trait (sifat) dalam bahasa, penelitian dimensi trait secara universal antar budaya dan hubungan antara pertanyaan-pertanyaan mengenai trait dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain dan penilaian (rating). The Big Five Personality dibangun dengan beberapa pendekatan yang sederhana termasuk menggunakan pendekatan superfactor dari Eysenck. Faktor kepribadian The Big Five juga merupakan salah satu pendekatan yang dianggap lebih sederhana dan deskriptif dalam menggambarkan kepribadian manusia (Pervin, 2005).

Hasil yang konsisten mengenati teori ini juga telah diperoleh dari berbagai teknik pengukuran. Kelima faktor ini telah ditemukan pada anak-anak dan orang dewasa. Berdasarkan studi longitudinal selama 6 (enam) tahun diperoleh kestabilan sifat pada subjek yang sama (dalam Schultz & Schultz, 1994). Menurut Costa & McCrae (2003) ada beberapa istilah yang digunakan untuk menggolongkan trait (sifat), yaitu:

  1. Extraversion (E), merupakan taksiran kualitas dan intensitas interaksi interpersonal, tingkat aktivitas, kebutuhan untuk stimulasi dan kapasitas untuk kesenangan. Adapun ciri-ciri Extraversion adalah:
  • Gregariousness (suka berkumpul).
  • Activity level (level aktivitas).
  • Assertiveness (asertif).
  • Excitement Seeking (mencari kesenangan).
  • Positive Emotions (emosi yang positif).
  • Warmth (kehangatan).

Subfaktor-subfaktor dalam extraversion dapat dibagi kembali ke dalam 3 ciri interpersonal dan temperamental. Subfaktor kehangatan (Warmth) merujuk pada interaksi personal yang bersahabat dan tulus. Sebaliknya individu yang dingin cenderung kaku dan tidak dekat dengan orang kebanyakan. Kehangatan (warmth) dan sifat suka berkumpul (gregariousness) biasanya muncul pada individu yang mudah bergaul. Individu yang suka berkumpul cenderung menyukai keramaian dan dorongan sosial. Asertivitas adalah subfaktor ketiga dalam dimensi Extraversion. Individu yang asertif biasanya memiliki kemampuan untuk memimpin, bertanggung jawab akan suatu tugas dan mampu mengungkapkan perasaan atau keinginan dengan mudah.

Tiga subfaktor lain dari Extraversion termasuk dalam ciri temperamental yakni level aktivitas (activity level), pencarian kesenangan (excitement seeking), dan emosi positif (positive emotion). Individu dengan tipe kepribadian Extraversion biasanya suka menyibukkan diri, bertindak dengan penuh semangat serta berbicara dengan cepat sehingga terkesan energik. Mereka lebih menyukai lingkungan yang dapat menstimulasi mereka dalam upaya pencarian kesenangan, contohnya mobil berkecapatan tinggi, pakaian yang mencolok, tindakan yang menantang resiko berbahaya. Kehidupan yang aktif dan menyenangkan dari seorang individu dengan tipe kepribadian Extraversion menceriminkan pengalaman emosi yang positif. Kesenangan, semangat dan kelucuan menjadi tema utama dari tipe kepribadian Extraversion. Semua disposisi ini bersifat sinergis, bersama-sama membentuk tipe kepribadian.

2. Agreeableness (A), mendeskripsikan kualitas orientasi interpersonal seseorang secara berkesinambungan dari perasaan terharu sampai perasaan menentang dalam pikiran, perasaan dan tindakan. Adapun ciri-ciri sifat Agreeableness adalah:

  • Straightforwardness (berterusterang).
  • Trust (kepercayaan).
  • Altruism (mendahulukan kepentingan orang lain).
  • Modesty (rendah hati).
  • Tendermindedness (berhati lembut).
  • Compliance (kerelaan).

Individu dengan tipe kepribadian Agreeableness mempercayai orang lain dan jarang mencurigai niat yang tersembunyi. Percaya (trust) adalah perkembangan psikososial utama yang paling mendasar menurut teori Erikson. Menurutnya individu yang tidak mengembangkan rasa percaya tidak akan pernah menguasai tahap industry, identity, dan intimacy. Saat individu yang Agreeableness mempercayai orang lain, maka ia pun akan menjadi individu yang dipercayai orang lain, ini ditandai oleh kejujuran serta keterusterangan (Straightforwardness). Individu yang Agreeableness cenderung tidak mementingkan diri sendiri, sebagaimana yang tercermin dalam kebijaksanaan serta keinginan mereka untuk membantu orang lain (altruism). Individu yang Agreeableness pada dasarnya lembut dan mau mengalah demi orang lain. Subfaktor ini dikenal sebagai compliance. Individu yang Agreeableness menunjukkan kerendahan hati (modesty) dalam menilai kemampuan dirinya. Skor yang rendah pada subfaktor ini mungkin menunjukkan kecenderungan narsistik. Selain itu, individu yang Agreeableness biasanya menunjukkan kebaikan hati (tendermindedness), sentimentil, dan mudah tersentuh.

3. Conscientiousness (C), mendeskripsikan perilaku tugas dan arah tujuan, dan secara sosial membutuhkan impuls kontrol. Conscientiousness memilki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Self-discipline (disiplin).
  • Dutifulness (patuh).
  • Competence (kompetensi).
  • Order (teratur).
  • Deliberation (pertimbangan).
  • Achievement striving (pencapaian prestasi).

Individu yang memiliki tipe kepribadian Conscientiousness menunjukkan cii rasional dan berpikir bahwa diri mereka mempunyai kompetensi yang tinggi. Sebagian dari kesuksesan mereka berasal dari kemampuan organisasi yang baik serta keteraturan (order). Kedua hal ini membuat mereka bekerja dengan efisien. Individu yang Conscientiousness memegang teguh tugas (dutifulness), memiliki kebutuhan akan pencapaian prestasi yang tinggi (achievement striving), menggapai kesempurnaan dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Biasanya mereka memiliki disiplin diri yang tinggi (self-discipline) sehingga mampu mencapai tujuan mereka. Umumnya mereka menunjukkan ciri pertimbangan (deliberation) dengan membuat rencana di awal, berpikir dengan penuh hati-hati sebelum bertindak.

4. Neuroticsm (N), merupakan penyesuaian diri dengan ketidakstabilan emosi. Faktor ini mengenal individu yang mudah tertekan secara psikologis, ide-ide yang tidak realistic, idaman atau dorongan yang berlebihan dan respon yang maladaptif. Adapun ciri-ciri Neuroticsm adalah:

  • Anxiety (kecemasan).
  • Self-consciousness (kesadaran diri).
  • Depression (depresi).
  • Vulnerability (retan).
  • Impulsiveness (impulsif).
  • Angry hostility (permusuhan).

Kecemasan (anxiety) dan permusuhan (angry hostility) merupakan 2 subfaktor dari Neuroticsm yang terbentuk dari 2 kondisi emosi dasar yaitu takut dan marah. Setiap orang pernah merasakan kedua emosi ini dari waktu ke waktu, namun frekuensi dan intensitas emosi yang mereka rasakan berbeda antar satu individu dengan individu lain. Individu dengan sifat cemas cenderung gagap dan tegang. Mereka mudah khawatir dan merenungkan hal-hal yang mungkin tidak berjalan semestinya. Individu dengan rasa permusuhan yang tinggi menunjukkan kecenderungan lekas marah dan sulit untuk rukun dengan orang lain.

Dua emosi lain yang membentuk subfaktor depresi (depression) dan kesadaran diri (self-consciousness) adalah sedih dan malu. Sebagai sebuah sifat, depresi adalah suatu kecenderungan individu mengalami kesedihan, putus asa, dan kesepian. Individu yang depresi sering memiliki perasaan bersalah dan merendahkan dirinya sendiri. Individu dengan kesadaran diri (self-consciousness) yang tinggi cenderung merasakan malu yang berlebihan. Biasanya mereka peka terhadap ejekan dan cemoohan, karena sering merasa inferior terhadap orang lain.

Dua faset lain dari Neuroticsm lebih sering muncul dalam bentuk perilaku daripada keadaan emosional. Impulsif adalah suatu kecenderungan untuk dikuasai oleh dorongan dan keinginan. Karena mereka mempunyai kontrol yang lemah, individu yang memilki sifat impulsif biasanya menunjukkan kecenderungan makan terlalu banyak atau terlalu banyak menghabiskan uang untuk minum-minuman keras, merokok, berjudi atau bahkan menggunakan narkoba (Bromer et. al dalam McCrae, 2003). Vulnerability merujuk pada ketidakmampuan individu dalam menangani stres. Individu dengan sifat ini cenderung panik di saat menghadapi keadaan darurat, break down, dan menjadi tergantung akan bantuan orang lain.

Beberapa individu mungkin merasakan cemas tapi tidak menunjukkan permusuhan, sadar akan dirinya tapi tidak impulsif. Namun secara umum, individu yang memilki tipe kepribadian Neuroticsm cenderung memilki skor yang tinggi pada tiap subfaktor lainnya. Mereka cenderung memilki emosi yang negatif sehingga mempengaruhi kemampuan mereka dalam menangani masalah dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Tiap subfaktor di atas bisa jadi membentuk suatu rantai pada perilaku seorang individu, misalnya individu dengan tipe kepribadian Neuroticsm cenderung merasa cemas dan malu saat berada dalam situasi sosial, ketidakmampuan untuk berelasi baik dengan orang lain mungkin membuat mereka merasakan permusuhan, hal ini tentu membuat masalah menjadi kompleks. Sebagai kompensasinya, mereka beralih menggunakan alkohol atau mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Dalam jangka panjang perilaku seperti ini akan membawa individu pada perasaan depresi.

5. Openness to Experience (O), mendeskripsikan luas, kedalaman, kerumitan mental individu dan pengalaman hidup. Ciri-ciri sifat Openess adalah:

  • Fantasy (khayalan).
  • Aesthetics (keindahan).
  • Feelings (perasaan).
  • Ideas (ide).
  • Actions (tindakan).
  • Values (nilai-nilai).

Keterbukaan terhadap pengalaman (Openness to Experience) diukur melalui 6 area yang berbeda. Keterbukaan dalam fantasi/khayalan artinya individu memilki imajinasi yang hidup dan kecenderungan untuk mengembangkan angan-angan yang luas. Keindahan (aesthetics) teramati dari sensitivitas terhadap seni dan keindahan. Pengalaman aesthetic mungkin merupakan inti dari keterbukaan. Individu yang memiliki kesenangan terhadap aktivitas aesthetic umumnya adalah orang-orang yang terbuka. Sebagaimana presiksi Carl Rogers, individu yang terbuka menghayati perasaannya sendiri dengan kuat dan menghargai pengalaman, menganggapnya sebagai sumber dari makna hidup.

Keterbukaan terhadap tindakan (actions) adalah lawan dari kekauan. Individu yang terbuka mempunyai keinginan untuk mencoba makanan yang baru atau menonton film baru, atau berjalan-jalan ke negara lain. Keterbukaan terhadap ide (ideas) dan nilai (values) juga subfaktor dari tipe kepribadian ini. Individu yang terbuka cenderung mempunyai rasa ingin tahu dan menghargai pengetahuan. Ini mungkin dikarenakan mereka cenderung memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda dan mampu berempati pada kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Mereka cenderung bebas dalam menganut nilai-nilai, mengakui bahwa benar atau salahnya suatu hal bagi satu orang mungkin akan berada jika diterapkan pada orang lain yang menghadapi kondisi berbeda.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *