Konsep dasar Locus of Control Rooter

Posted on

Rotter menggunakan konsep dari teori social learning untuk menjelaskan locus of control. Dalam konsep dasar dari social learning theory:

  1. Potensi perilaku, yaitu setiap kemungkinan yang secara relatif muncul pada situasi tertentu, berkaitan dengan hasil yang diinginkan dalam kehidupan seseorang.
  2. Harapan, merupakan suatu kemungkinan dari berbagai kejadian yang akan muncul dan dialami oleh seseorang.
  3. Nilai unsur penguat, yakni pilihan terhadap berbagai kemungkinan penguatan atas hasil dari beberapa penguat lainnya yang dapat muncul pada situasi serupa.
  4. Suasana psikologis, yakni bentuk rangsangan baik secara internal maupun external yang diterima seseorang pada suatu saat tertentu, yang meningkatkan atau menurunkan harapan terhadap munculnya hasil yang sangat diharapkan.

Rotter menentang pendekatan yang mengatakan bahwa perilaku muncul karena semata-mata disebabkan oleh trait kepribadian tertentu. Individu dengan trait tertentu akan selalu berperilaku seperti yang diduga tanpa memperhitungkan situasi eksternal. Rotter menegaskan bahwa setiap situasi memberikan isyarat atau petunjuk pada kita tentang reinforcement yang akan muncul jika kita berperilaku tertentu. Dengan demikian terjadinya perilaku dapat diprediksi melalui pemahaman terhadap situasi psikologis tersebut.

Pengembangan dari keempat konsep dasar tadi, meliputi dua hal yaitu : Freedom of Movement dan  The Minimal Goal Level. Konsep ini mengacu pada taraf atau derajat harapan individu bahwa dia akan berhasil melakukan perilaku yang mendatangkan reinforcement.

Tinggi rendahnya Freedom of Movement seseorang ditentukan oleh jumlah minimal reinforcement yang dianggap dapat memuaskan seseorang dan sejauh mana pengetahuan individu tentang cara pencapaian suatu tujuan tertentu dan pengalaman akan keberhasilan atau kegagalan yang diperolehnya pada masa lalu.

Menurut Rotter, perilaku yang muncul merupakan fungsi dari harapan terhadap goal tertentu dan nilai reinforcement dari goal tersebut. Jadi munculnya perilaku tertentu, tergantung dari bagaimana derajat kepentingan yang ia tetapkan terhadap perilakunya tersebut, serta bagaimana keyakinannya bahwa perilaku tersebut akan memberikan hasil yang diinginkan.

Variabel harapan menurut Rotter, merupakan fungsi dari harapan tertentu terhadap respon tertentu yang diarahkan oleh rangsang situasi tertentu dengan harapan yang digeneralisir.

Sehubungan dengan rumusannya mengenai harapan yang digeneralisir dan harapan yang spesifik tersebut, Rotter melakukan penelitian mengenai efek dari tugas-tugas yang berkaitan dengan keberuntungannya. Pada situasi yang berkaitan dengan nasib atau keberuntungan, reward yang diperoleh, ditentukan bersumber dari faktor-faktor eksternal. Oleh karena itu, kemungkingan untuk memperoleh reward tersebut tidak dipengaruhi oleh respon dari individualnya. Di lain pihak pada situasi yang berkaitan dengan keterampilan, reinforcement yang diperoleh bergantung pada perilaku individunya. Dalam hal ini, reward ditentukan oleh faktor-faktor internal.

Dengan demikian, perolehan reinforcement pada situasi yang dirasakan ditentukan oleh nasib akan menghasilkan perubahan dalam harapan seseorang, yang berbeda dengan perubahan yang terjadi pada situasi yang akan dirasakan ditentukan oleh keterampilan.

Sehubungan dengan penelitian tersebut, Rotter, Seeman dan Lieverant menambahkan bahwa individu yang kehilangan uang dalam suatu perjalanan tidak akan membuang waktunya untuk kembali dan mencari uangnya sepanjang jalan, karena meyakini kejadian yang dialaminya semata-mata karena nasib. Pada kasus ini, reinforcement yang diperoleh ditentukan oleh nasib, dikendalikan oleh orang lain atau kekuatan dari luar individu. Lain halnya dengan individu yang bermain olahraga yang ditunjukan bahwa permainannya baik oleh seseorang dimana ia belajar, maka ia menambahkan waktunya untuk bermain. Pada kasus ini reinforcement yang muncul tergantung pada beberapa karakteristik atau kualitas dari individunya, yang disebut keterampilan. Dalam hal ini reinforcement yang terjadi dihayati karena perilakunya dari dirinya.

Dengan demikian tampak bahwa situasi yang berhubungan dengan keberuntungan atau skill ini, berkaitan dengan pola reinforcement yang berbeda, sehingga akan membedakan antisipasi seseorang terhadap goal dan pendekatan perilakunya. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, apakah terdapat perbedaan individual dalam persepsi mengenai perolehan reinforcement tersebut? Jika ada, perbedaan individual tersebut akan menentukan general expectancies seseorang, yang kemudian akan mempengaruhi penilaian subjektifitasnya mengenai kemungkinan diperolehnya suatu reinforcement dan hasil dari perilakunya.

Menurut Rotter, setiap individu mempunyai perbedaan dalam memandang suatu kejadian sebagai reward atau reinforcement. Perbedaan ini juga terdapat pada tindakan individu. Salah satu determinant tindakan tersebut adalah derajat yang dirasakan individu bahwa reinforcement yang diperoleh mengikuti atau bergantung pada atribut perilaku dirinya, serta derajat yang dirasakan bahwa reinforcement yang diperoleh dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan diluar dirinya dan tidak tergantung pada perilaku dirinya.

Pengaruh reinforcement mengikuti perilaku kehidupan manusia, namun proses tersebut tidaklah sederhana. Karena tergantung dari ada atau tidaknya persepsi individu terhadap penyebab hubungan antara perilakunya dengan reinforcement yang diperolehnya. Jika reinforcement yang dirasakan mengikuti beberapa tindakan dirinya, dinilai tidak sepenuhnya bergantung pada perilakunya, pada budaya kita hal semacam itu khas disebut sebagai hasil dari keberuntungan, nasib, dibawah kendali orang lain yang berpengaruh atau sebagai sesuatu yang tidak dapat diramalkan karena adanya kerumitan-kerumitan dari kekuatan disekitarnya. Jika suatu kejadian dipersepsi seseorang dengan seperti itu, Rotter menyebutnya sebagai keyakinan dalam kendali eksternal. Jika suatu kejadian dirasakan pada perilaku atau karakteristik permanen dalam dirinya, ia menyebutnya sebagai dalam kendali internal. Sebagai tambahan, kendali internal-external berkaitan dengan ada tidaknya seseorang merasakan bahwa dirinya memiliki penguasaan atau kehilangan kekuasaan atas kejadian yang dialaminya.

Selanjutnya oleh Rotter hal itu dijadikan dasar bagi tipologi yang membagi manusia ke dalam dua tipe global. Ditinjau dari sumber reinforcementnya, rotter mengemukakan adanya perbedaan mendasar dari penghayatan subjektif seseorang terhadap sumber perolehan reinforcement tersebut. Ada yang menganggap sumber perolehan reinforcement berasal dalam diri yang oleh Rotter disebut sebagai individu dengan locus of control dimensi internal. Adapula yang menganggap bahwa sumber perolehan reinforcement berasal dari luar diri, yang oleh Rotter disebut sebagai individu dengan locus of control dimensi external, penghayatan tersebut diperoleh individu berdasarkan pemaknaannya terhadap pengalaman-pengalaman yang diperoleh sebelumnya.

Individu yang bertipe internal meyakini bahwa kehidupannya, hasil kerjanya, karirnya, ditentukan oleh faktor-faktor internal seperti usaha, kemampuan diri serta karakteristik didalam dirinya. Sedangkan tipe external meyakini bahwa apa yang terjadi pada dirinya bersumber dari hal-hal diluar dirinya seperti nasib, keberuntungan, oleh karena tindakan tindakan orang lain.

Pada dasarnya locus of control menggambarkan bagaimana dan seberapa kuat kontrol yang terjadi dalam diri seseorang bersumber dari dalam diri atau luar diri yang menjadi dasar pembentukan perilakunya. Dengan demikian juga akan berperan sebagai pusat kendali dan pusat pengarahan diri setiap perilakunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *