Pengertian, Gejala dan Ciri Anak ADHD Serta Jenis Gangguannya

Posted on

Menurut Sani Budiantini Hermawan, “ Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Hiperaktif merupakan turunan dari Attention Deficit Hiperactivity Disorder atau ADHD “ (Zaviera, 2007 : 14).

Sejumlah penelitian telah dilakukan oleh para ahli di berbagai pelosok dunia untuk menyingkap penyebab pasti gangguan ini. Bahkan para ahli telah menggunakan peralatan paling mutakhir untuk melakukan pencitraan otak.

Akhirnya, barulah diketahui memang ada yang salah pada otak anak ADHD. “ Kelainan pada otak ini bisa pula terjadi di bagian depan otak, namun bisa pula terjadi pada senyawa kimia pengantar rangsang atau neurotransmitter. Khususnya, dari jenis dopamin dan norepinefrin. Otak anak penderita ADHD, khususnya otak kanan, memiliki ukuran yang lebih kecil “ (Dwijo, dalam Zaviera, 2007 : 24).

ADHD dibagi menjadi tiga jenis dan masing-masing jenis memiliki gejala yang berbeda-beda. Ketiga jenis tersebut adalah : tidak acuh, hiperaktif- bertindak sekehendak hati, dan kombinasi antara jenis tidak acuh dan hiperaktif.

Anak yang menderita ADHD jenis tidak acuh, kemungkinan memiliki gejala-gejala sebagai berikut :

  1. Memiliki kemampuan memusatkan perhatian yang
  2. Perhatiannya mudah sekali teralihkan.
  3. Tidak mampu memerhatikan sesuatu secara
  4. Sering membuat
  5. Gagal dalam menyelesaikan segala
  6. Mengalami masalah atau sulit mengingat sesuatu.
  7. Kelihatan seolah-olah tidak mendengarkan saat diajak bicara atau acuh tak
  8. Tidak dapat diatur atau hidup (Zaviera, 2007 : 51).

Anak penderita ADHD hiperaktif, mungkin memiliki gejala-gejala sebagai berikut :

  1. Selalu terlihat gelisah dan posisi badan tidak pernah tenang.
  2. Tidak dapat duduk tenang atau bermain dengan
  3. Berlari atau melompat ke sana kemari meskipun
  4. Berbicara terus menerus dan membuat kegaduhan meski
  5. Langsung menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu meski pertanyaan belum selesai
  6. Tidak bersedia menunggu
  7. Memotong pembicaraan orang (Zaviera, 2007 : 51).

Jenis ADHD yang paling sering muncul adalah jenis gabungan antara ADHD tak acuh dengan hiperaktivitas. Diagnosis ADHD biasanya dilakukan saat anak didapati menderita beberapa gejala diatas yang berawal sebelum anak itu berumur tujuh tahun, dan proses diagnosis ini berlangsung sekurang-kurangnya enam bulan. Umumnya, gejala-gejala itu harus diamati dengan seksama pada sekurang-kurangnya dua tempat, misalnya sekolah dan rumah (Zaviera, 2007 : 51).

Adapun ciri-ciri anak hiperaktif yang dikutip oleh zaviera

  • adalah sebagai berikut :
  1. Tidak fokus

Anak dengan gangguan hiperaktivitas tidak bisa berkonsentrasi lebih dari lima menit. Dengan kata lain, ia tidak bisa diam dalam waktu lama dan mudah teralihkan perhatiannya kepada hal lain. Misalnya, ketika anak sedang bermain mobil-mobilan kemudian datang anak lain membawa bola, anak akan langsung mengubah fokus perhatiannya ke bola tersebut. Anak pun akan berperilaku impulsif, seperti selalu ingin meraih dan memegang apapun yang ada di depannya.

Tak hanya itu, anak dengan gangguan hiperaktivitas tidak memiliki fokus jelas. Dia berbicara semaunya berdasarkan apa yang ingin diutarakan tanpa ada maksud jelas sehingga kalimatnya sering kali sulit dipahami. Demikian pula interaksinya dengan orang lain. Biasanya yang bersangkutan selalu cuek kala dipanggil sehingga orang tua sering mengeluh kalau anaknya pura-pura tidak mendengar. Dengan perilaku seperti ini, anak cenderung tidak mampu melakukan sosialisasi dengan baik.

  1. Menentang

Anak dengan gangguan hiperaktivitas umumnya memiliki sikap penentang/pembangkang atau tidak mau dinasehati. Misalnya, penderita akan marah jika dilarang berlari ke sana kemari, coret-coret atau naik- turun tak berhenti. Penolakannya juga bisa ditunjukkan dengan sikap cuek.

  1. Destruktif

Perilakunya bersifat destruktif atau merusak. Ketika menyusun lego misalnya, anak aktif akan menyelesaikannya dengan baik sampai lego tersusun rapi. Sebaliknya anak hiperaktif bukan menyelesaikannya malah menghancurkan mainan lego yang sudah tersusun rapi. Terhadap barang-barang yang ada di rumah, seperti vas atau pajangan lain, kecenderungan anak untuk menghancurkannya juga sangat besar. Oleh karena itu, anak hiperaktif sebaiknya dijauhkan dari barang-barang  yang mudah dipegang dan mudah rusak.

  1. Tak kenal lelah

Anak dengan gangguan hiperaktivitas sering tidak menunjukkan sikap lelah. Sepanjang hari dia akan selalu bergerak ke sana kemari, lompat, lari, berguling, dan sebagainya. Hal inilah yang sering kali membuat orang tua kewalahan dan tidak sanggup meladeni perilakunya.

  1. Tanpa tujuan

Semua aktivitas dilakukan tanpa tujuan jelas. Kalau anak aktif, ketika naik ke atas kursi punya tujuan, misalnya ingin mengambil mainan atau bermain peran sebagai Superman. Anak hiperaktif melakukannya tanpa tujuan. Dia hanya naik dan turun kursi saja.

  1. Tidak sabar dan usil

Yang bersangkutan juga tidak memiliki sifat sabar. Ketika bermain dia tidak mau menunggu giliran. Ketika dia ingin memainkan mobil- mobilan yang sedang dimainkan oleh temannya, dia langsung merebut tanpa ba-bi-bu. Tak hanya itu, anak hiperaktif pun sering kali mengusili temannya tanpa alasan yang jelas. Misalnya, tiba-tiba memukul, mendorong, menimpuk, dan sebagainya, meskipun tidak ada pemicu yang harus membuat anak melakukan hal seperti itu.

  1. Intelektualitas rendah

Sering kali intelektualitas anak dengan gangguan hiperaktivitas berada di bawah rata-rata anak normal. Mungkin karena secara psikologis mentalnya sudah terganggu sehingga ia tidak bisa menunjukkan kemampuan kreatifnya.

Anak dengan gangguan hiperaktivitas memiliki beberapa kriteria, yaitu sebagai berikut :

  1. Kriteria sulit konsentrasi
  • Sering melakukan kecerobohan atau gagal menyimak hal yang terperinci dan sering membuat kesalahan karena tidak
  • Sering sulit memusatkan perhatian secara terus menerus dalam satu aktivitas.
  • Sering tampak tidak mendengarkan kalau diajak
  • Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas.
  • Sering sulit mengatur kegiatan maupun
  • Sering menghindar, tidak menyukai, ataupun enggan melakukan tugas yang butuh pemikiran yang cukup
  • Sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk melakukan
  • Sering mudah beralih perhatian oleh ragsangan dari luar.
  • Sering lupa dalam mengerjakan kegiatan sehari-hari.
  1. Kriteria hiperaktif dan impulsif
  • Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat.
  • Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya dia duduk
  • Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak
  • Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.
  • Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya tidak
  • Sering terlalu banyak
  • Sering terlalu cepat memberi jawaban ketika ditanya, padahal pertanyaan belum selesai.
  • Sering sulit menunggu
  • Sering memotong atau menyela (Zaviera, 2007 : 27-28).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *