Faktor Yang Mempengaruhi Kohesivitas Kelompok

Faktor yang mempengaruhi kohevisitas kelompok menurut cota (dalam Baron & Byrne,1997) menyatakan bahwa melibatkan dua dimensi primer, yakni tugas sosial dan individu group. Dimensi yang pertama berkaitan dengan individu tertarik pada tugas kelompok atau dalam hubungan sosial.

Sedangkan dimensi yang kedua berkaitan dengan individu pada kelompok atau anggota yang lain. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi teori kohesivitas antara lain adalah:

  1. Sejumlah usaha yang diperlukan untuk masuk kelompok, biaya yang besar untuk masuk kelompok menyebabkan ketertarikan anggota menjadi lebih besar.
  2. Adanya ancaman dari luar atau kompetensi.
  3. Besarnya kelompok, pada kelompok yang kecil lebih cenderung kohesif.

Selanjutnya, Gibson (1997) menjelaskan bahwa kelompok yang rendah kohesivitasnya tidak memiliki keterikatan interpersonal di antara anggotanya. Kelompok dapat menarik individu disebabkan oleh adanya :

  1. Tujuan kelompok dan anggota saling mengisi dan spesifikasi yang jelas.
  2. Kelompok memiliki pemimpin yang kharismatik.
  3. Reputasi kelompok tampak yaitu keberhasilan mencapai tujuan.
  4. Jumlah anggota kelompok kecil, sehingga memungkinkan anggota berpendapat, mendengar, dan evaluasi.
  5. Anggota saling mendukung dan menolong satu sama lain untuk mengatasi rintangan dan hambatan.

Kelompok yang memiliki kohesivitas tinggi biasanya terdiri atas individu-individu yang termotivasi untuk membangun kebersamaan dan cenderung memiliki kinerja kelompok yang efektif.

Forsyth (2010: 122-127) juga mengungkapkan faktor yang mempengaruhi kohesivitas kelompok, yaitu :

  1. Interpersonal Attraction (Ketertarikan Interpersonal)

Suatu kelompok dapat terjalin ketika dalam sebuah kelompok tersebut ada ketertarikan individu. Lott & Lott dalam Forsyth (2010:123), menyebutkan faktor yang mempengaruhi pembentukan kelompok selain ketertarikan di antaranya seperti kedekatan, frekuensi interaksi, kesamaan, kelengkapan, timbal balik, dan saling memberikan penghargaan dapat mendorong terbentuknya sebuah kelompok. Dengan demikian juga mereka dapat membentu kelompok yang belum sempurna mnejadi kelompok yang sangat kompak.

  1. Stability of Membership (Stabilitas Keanggotaan)

Stabilitas anggota dapat dilihat dari lamanya anggota berada pada suatu kelompok. Suatu kelompok yang keanggotaannya sering berganti cenderung memiliki kohesivitas yang rendah dan berbanding terbalik dengan kelompok yang keanggotaannya cenderung lama.

  1. Group Size (Ukuran Kelompok)

Ukuran kelompok bisa mempengaruhi kohesivitas kelompok. Konsekuensi yang ditimbulkan yaitu semakin besar sebuah kelompok maka kebutuhan akan antar anggota kelompok semakin besar juga. Kelompok yang besar memungkinkan adanya reaksi-reaksi antar anggota kelompok yang meningkat dengan cepat sehingga banyak anggota tidak bisa lagi memelihara hubungan yang positif dengan anggota kelompok lainnya. Hal tersebut sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Bales & Borgatta dalam Forsyth, 2010:214 yang menyatakan, suatu kelompok yang lebih besar para anggotanya tidak lagi ambil bagian dalam semua aktivitas kelompok.

  1. Structural Features (ciri-ciri struktural)

Kelompok yang kohesif cenderung terjadi secara relatif karena mereka lebih tersusun dan struktur-struktur kelompok dihubungkan dengan tingkat kohesi yang lebih tinggi dibanding dengan yang lain.

  1. Initation (permulaan kelompok)

Seorang individu yang memiliki ketertarikan untuk masuk dalam suatu kelompok, pada umumnya melakukan serangkaian tes untuk mendapatkan keanggotaan dalam kelompok. Dengan adanya tahapan-tahapan yang dilakukan seseorang bergabung dalam suatu kelompok akan membuat sebuah ikatan yang kuat antar setiap anggota dengan kelompoknya.

Aspek-Aspek Kohesivitas Kelompok Menurut Forsyth

Menurut Forsyth (1999) kohesivitas adalah kesatuan yang terjalin dalam kelompok, di mana setiap individu menikmati interaksi satu sama lain, dan memiliki waktu tertentu untuk bersama dan di dalamnya terdapat semangat kebersamaan yang tinggi.

Kohesivitas merupakan konsep yang multidimensi dengan indikator yang bervariasi. Dalam bukunya An Introduction of Group Dynamic Forsyth (1999) menjelaskan bahwa ada empat aspek komponen kohesivitas kelompok :

  1. Kekuatan Sosial (Binding force)

Keseluruhan dari dorongan yang dilakukan oleh individu dalam kelompok untuk tetap berada dalam kelompoknya. Dorongan yang menjadikan anggota kelompok selalu berhubungan. Kumpulan dari dorongan tersebut membuat mereka bersatu.

  1. Kesatuan Dalam Kelompok (Group unity)

Perasaan saling memiliki anggota terhadap kelompoknya dan memiliki perasaan moral yang berhubungan dengan keanggotaannya dalam kelompok. Setiap individu dalam kelompok merasa kelompok adalah sebuah keluarga, tim dan komunitasnya serta memiliki perasaan kebersamaan.

  1. Daya Tarik (Attraction)

Daya tarik merupakan properti kelompok yang berasal dari jumlah dan kekuatan sikap positif antara anggota kelompok. Individu akan lebih tertarik melihat segala sesuatu dari segi kelompok daripada melihat dari sisi sebagai anggota secara spesifik.

  1. Kerja sama Kelompok (Teamwork)

Sebuah proses dinamis yang direfleksikan dengan kecenderungan suatu kelompok untuk tetap terikat bersama dan mempertahankan kesatuan dalam usaha untuk mencapai tujuan. Individu memiliki keinginan yang lebih besar untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok.

Hingga sampai saat ini banyak sekali peneliti yang meneliti menggunakan teori kohesivitas dengan berbagai macam indikator karena konsep kohesivitas ini tidak sederhana sebagaimana proses yang berdiri sendiri, tetapi memiliki proses yang multi komponen dengan indikator yang bervariasi.

Pengertian Kohesivitas Kelompok Menurut Definisi Para Ahli

Berikut adalah pengertian Kohevisitas Menurut definisi para ahli seperti Greenberg, Carron,  McShane & Glinow, Gibson, George and Jones, Robbins, Munandar, Cartwright dan Zander, dll. Semoga dapat bermanfaat.

Greenberg (2005) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok adalah perasaan kebersamaan dalam kebersamaan antar anggota kelompok. Tingginya kohesivitas perasaan dalam kebersamaan antar anggota kelompok. Tingginya kohesivitas sebuah kelompok berarti tiap anggota dalam kelompok saling berinteraksi satu sama lain, mendapatkan tujuan mereka, dan saling membantu di tiap pertemuan dan bila anggota kelompok tidak kompak maka tiap anggota kelompok akan saling tidak menyukai satu sama lain dan mungkin terjadi perbedaan pendapat.

Carron (1982) “Cohesiveness is the dynamic process which is reflected in the tendency for a group to stick together and remain united in the pursuit of its goals and objectives.” Kohesi merupakan proses dinamis yang direfleksikan dalam kecenderungan kelompok untuk tetap bersama dalam mencapai tujuan. Dalam definisi tersebut, ada dua aspek kohesivitas yang perlu digarisbawahi yaitu, Pertama “dinamis” merupakan pengakuan terhadap cara anggota kelompok secara individu yang merasakan orang lain dan kelompok beserta tujuannya yang berubah-ubah sepanjang waktu. Kedua, “tujuan kelompok”, tujuan ini sangat kompleks sehingga kohesi mempunyai banyak dimensi.

Menurut McShane & Glinow (2003) kohesivitas kelompok merupakan perasaan daya tarik individu terhadap kelompok dan motivasi mereka untuk tetap bersama kelompok di mana hal tersebut menjadi faktor kohesivitas yang penting dalam keberhasilan kelompok. Anggota merasa kompak ketika adalah ketika mereka percaya kelompok mereka akan saling membantu mencapai tujuan bersama, saling mengisi kebutuhan atau saling memberikan dukungan sosial selama masa krisis.

Gibson (2003) mengungkapkan bahwa kohesivitas kelompok adalah kekuatan ketertarikan anggota yang tetap pada kelompoknya dari pada terhadap kelompok lain. Mengikuti kelompok akan memberikan rasa kebersamaan dan rasa semangat dalam bekerja.

George & Jones (2002) menjelaskan kohesivitas kelompok adalah anggota kelompok yang memiliki daya tarik satu sama lain. Kelompok yang kohesivitasnya tinggi adalah saling tertarik pada setiap anggota, sedangkan kelompok yang kohesivitasnya rendah adalah tidak saling tertarik satu sama lain.

Robbins (2001) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok adalah sejauh mana anggota tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap berada dalam kelompok tersebut. Misalnya, anggota suatu komuitas menjadi kompak karena sering menghabiskan waktu dan melakukan berbagai kegiatan secara bersama-sama, dan mampu menghadapi ancaman dari luar yang menyebabkan sesama anggota menjadi lebih dekat satu sama lain.

Menurut Munandar (2001) kohesivitas kelompopk adalah kesepakatan para anggota terhadap sasaran kelompok, serta saling menerima antar anggota kelompok. Semakin para anggota kelompok saling tertarik dan makin sepakat mereka terhadap sasaran kelompok, makin lekat kelompoknya.

Cartwright dan Zander (1986) menyatakan bahwa kohesivitas merupakan derahat kekuatan ikatan dalam suatu kelompok yang masing-masing anggotanya secara psikologis menjadi saling tarik menarik dan saling tergantung.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teori kohesivitas suatu kelompok merupakan daya tarik secara emosional sesama anggota kelompok, dimana adanya rasa saling menyukai, membantu, dan secara bersama-sama saling mendukung untuk tetap bertahan dalam kelompok dalam mencapai satu tujuan.