Pengertian dan Ciri-Ciri Optimisme Menurut Definisi Para Ahli

Optimisme didefinisikan oleh Seligman (1991) sebagai sikap yang mengharapkan hasil yang positif dalam menghadapi masalah, dan berharap untuk mengatasi stress dan tantangan sehari-hari yang efektif.

Menurut Seligman

Optimisme adalah keyakinan dalam menyikapi peristiwa baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan, menempatkan penyebab kegagalan pada keadaan di luar diri, memiliki harapan dan ekspektansi menyeluruh bahwa akan ada lebih banyak hal baik daripada hal buruk yang terjadi pada masa yang datang yang diukur dengan skala optimisme yang disusun berdasarkan aspek-aspek explanatory style (Permanensi, pervasivitas, dan personalisasi) yang di kemukakan oleh Seligmen (1991).

Ciri pokok yang membedakan pesimisme dan optimisme ialah, orang pesimis ketika menghadapi masalah cenderung berkeyakinan bahwa masalah yang dihadapi akan berlangung lama dan mengacaukan sisi-sisi kehidupan lainnya. Orang pesimis berpikir bahwa masalah timbul akibat kesalahannya sendiri. Sebaliknya ketika menghadapi masalah atau kegagalan, orang yang optimis akan berpikir bahwa hal itu akan berlangsung lama dan tidak membuat seluruh kehidupannya menjadi bermasalah. orang yang optimis juga percaya bahwa lingkungan turut memberi andil atas peristiwa yang dialaminya.

Seorang yang optimis cenderung percaya bahwa kegagalan hanyalah kemundura sementara, yang penyebabnya terbatas pada satu hal. Optimis juga percaya bahwa kegagalan bukanlah kesalahan individu itu sendiri. Keadaan sekitar, nasib buruk, atau orang lain yang mempengaruhinya dan jika dihadapkan pada nasib buruk, mereka merasakannya sebagai tantangan dan akan berusaha keras.

Menurut Seligman ada dua tahap dalam optimisme yaitu learning to be helpless dan Explanatory Style.

  • Learning to be Helpless

pada tahap Learning to be Helpless (Ketidakberdayaan) membahas tentang ketidakberdayaan diri yang dialami dengan suatu reaksi menyerah, pasrah (vulnerability) atau bertahan kuat dengan bertindak (invulnerability). (Seligman, dikutip dari Davidson et. al, 2004)

  • Explanatory Style

Sedangkan tahap lainnya menurut seligman adalah Explanatory Style. Artinya sebuah kebiasaan individu dalam menjelaskan kepada diri sendiri tentang sebuah peristiwa terjadi.

Aspek-Aspek Optimisme Menurut Seligman

Menurut seligman (1991:44) menamakan gaya yang menjadi kebiasaan dalam menjelaskan diri sendiri mengapa suatu peristiwa terjadi sebagai Explanatory Style. Explanatory Style yang dipakai merupakan indikator optimis atau pesimisnya seseorang. Explanatory Style tersebut lebih dari sekedar apa yang dikatakan seseorang ketika menemui kegagalan melainkan juga merupakan kebiasaan berpikir yang dipelajari sejak kanak-kanak dan masa remaja. Explanatory style merupakan salah satu atribut psikologi yang mengindikasikan bagaimana seseorang akan menjelaskan kepada dirinya mengenai kejadian yang dialami baik positif maupun negatif..

Menurut Seligman (1991), Explanatory Style seseorang terdiri dari 3 aspek, yaitu:

  1. Permanensi (permanence) : Permanen Vs. Temporer

Permanensi adalah tentang waktu. Optimsitic style dalam menjelaskan peristiwa baik adalah kebalikan dari Optimistic style dalam menjelaskan peristiwa buruk Orang yang optimis percaya bahwa peristiwa yang buruk bersifat sementara. Optimistic style yaitu orang yang menggunakan kata-kata “kadang”, “akhir-akhir ini” pada peristiwa buruk, dan mengkualifikasikannya pada kejadian sekejap. Orang yang optimis lebih percaya peristiwa yang baik memiliki penyebab permanen daripada orang yang percaya bahwa penyebabnya sementara. Orang optimis menjelaskan peristiwa baik untuk mereka sendiri dalam hal penyebab permanen yaitu: sifat, kemampuan, dan selalu.   Orang yang pesimis (mudah menyerah) percaya bahwa persistiwa buruk yang terjadi pada mereka adalah permanen. Peristiwa buruk akan bertahan, akan selalu ada mempengaruhi kehidupan mereka. pessimsitic style yaitu orang yang berfikir tentang hal yang buruk itu dengan kata-kata “selalu” dan “tidak pernah” dan hal itu menjadi sifat yang permanen dalam dirinya maka itu dikatakan. Orang dikatakan pesimis menjelaskan persitiwa baik penyebabnya sementara: karena suasana hati, tenaga dan kadang-kadang. Dimensi permanensi menentukan berapa lama seseorang menyerah.

  1. Pervasivitas (pervasiveness): Spesific Vs. Universal

Pervasivitas adalah tentang ruang lingkup.

Dimensi pervasivitas.

Optimist Explanation style untuk peristiwa yang baik adalah yang berlawanan dengan peristiwa-peristiwa buruk. Orang yang Optimis percaya bahwa peristiwa-peristiwa buruk memiliki penyebab spesifik, sementara peristiwa yang baik memiliki penyebab universal berdasarkan apa yang dilakukannya. Orang pesimis percaya bahwa peristiwa-peristiwa buruk memiliki penyebab Universal dan bahwa peristiwa-peristiwa baik yang disebabkan oleh faktor-faktor spesifik.

  1. Personalisasi (Personalization): Internal Vs. Eksternal

Personalisasi adalah dimensi yang paling mudah dimengerti. Personalisasi yaitu Explanatory Style yang berkaitan dengan sumber penyebab, internal dan eksternal. orang yang optimis memandang masalah-masalah yang menekan dari sisi masalah lingkungan (eksternal) dan memandang peristiwa menyenangkan berasal dari dalam dirinya (internal). Sebaliknya orang yang pesimis memandang masalah yang menekan bersumber dan dalam dirinya (internal) dan menganggap keberhasilan sebagai akibat dari situasi di luar dirinya. (eksternal).